Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2014

DRAFT LANGSUNG DAN DAMPAK POSITIF BAGI BLOG

Beberapa hari yang lalu saya mengunggah artikel di web blog. Artikel tersebut saya siapakan jauh hari sebelumnya di laptop saya. Untuk itu saya langsung copy paste 4 artikel berturut-turut. Rupanya cara copy paste terhadap lebih dari satu postingan berdampak negatif terhadap blog saya. Informasi space iklan yang muncul di bawah artikel, ternyata sejak itu menghilang. Akhirnya saya membuat postingan baru dengan cara mengetik langsung di blog saya. Rupanya dampak langsungnya adalah informasi  adanya space iklan muncul kembali setelah saya unggah artikel berjudul dampak negatif mengunggah postingan dengan cara copy paste.

Artikel ini juga saya coba ketik langsung, tidak melalui draft yang saya simpan di MS-word untuk saya copy paste setelah artikel itu saya anggap layak muat. Saya mau melihat bagaimana reaksi yang muncul. Untuk sementara saya berkesimpulan bahwa mengunggah artikel dalam postingan di web blog, berdampak negatif terhadap keberadaan sebuah blog. Memang logika yang dapat kita saksikan adalah bahwasanya artikel pada blog seharusnya selalu diadaptasi atau di-update. Sewaktu kita meng-update membawa dampak yang positif terhadap blog kita. Rupanya ketikan langsung berdampak positif terhadap blog seseorang.

DRAFT LANGSUNG DAN DAMPAK POSITIF BAGI BLOG

Read Full Post »

dodol dari bandung

OLEH-OLEH DARI BANDUNG

Dodol 20141126_083019

Kali ini adalah kepergian ke kota Bandung yang ke-4 dalam rangka mengikuti konferensi tentang bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pertama beralngsung pada Agustus 2009. aktu itu saya masih mengmabil program doktor dalam bidang linguistik atau sosiolinguistik (peminatan saya) di Program Studi (S-3) Linguistik Program Pascasarjana UNUD. Karena saya merasa bahwa topik yang akan saya garap untuk disertasi saya nanti perlu saya pertajam dengan mencari masukan dari berbagai pihak, maka saya bersiskukuh untuk mengikuti acara konferensi ini. Namanya adalah CONAPLIN-2, Conference on Applied Linguistics. Konferenesi ini juga diembel-embeli internasional. Jadi ini, menurut brosur dan informasi yang saya peroleh, ini adalah kelas internasional.. Saya tidak tahu apa kreteira sebuah konferensi atau seminar dikatagorikan internasional.

Yang kedua adalah konferensi/semianr TEFLIN, Teaching of English as Foreign Language in Indonesia. Konferensi ini juga bertaraf internasional. memang konferensi ini lebih bergensi, apalagi ini tentang pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa Asing dengan konteks Indonesia. Ketiga Konferensi Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI).  Keempat CONAPLIN-7 yang berlangsung dari 24-25 November 2014. Kenapa saya mesti berangkat mengikuti konferensi ini kali ini? Yah ini sebagai balasan setelah saya gagal mendatangi seminar/konferensi internasional sebelumnya, yaitu ISLOJ di Padang, TEFLIN di Solo, dan satu lagi SIBI, simposium internasional bahasa ibu yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Bandung.

Dodol 20141126_082959

Saya memang tidak suka tinggal di hotel dekat UPI, tempat penyelenggaraan konferensi. Di sini terlalu dingin, terutama pada malam hari. Saya biasanya tidak kuat menahan dingin, sekalipun hanya untuk ambil air wudhu. Oleh karena saya mencarai hotel di sekitar kota Bandung. Cukup membayar angkot 6ribu rupiah dari UPI saya sudah sampai di kota Bandung. Kali ini juga saya cari hotel yang terjangkau kantong saya.

Kira-kira apa yang harus saya bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga? Yang saya incar hanya dodol. Agar lebih murah, saya cari dodol curah di kota Bandung. Dapat 24000/kg. beli seratus ribu, 4kg. Itu yang dapat saya bawa pulang untuk keluarga. Maklum. Itulah oleh-oleh khas Bandung. 

OLEH-OLEH DARI BANDUNG

Read Full Post »

HMI triger peneguh hati

HMI, PROVOKATOR PENEGUH HATI 

Di tengah kesibukan kuliah dan mengatur waktu agar saya dapat kerja sampingan, saya berkesempatan mengikuti kegiatan HMI. Saya merasakan mendapatkan pencerahan sewaktu saya mengikuti LDK, latihan dasar kepemimpinan, yang diselenggarakan HMI Cabang Denpasar. Itu berlangsung sekitar tahun 1984-1985. Nanti kalau ada kesempatan saya bongkar-bongkar file fisik di rumah. Kalau tidak salah ingat, sertifikat pelatihan LDK masih saya simpan bersama dengan arsip ijazah dan lain-lain. Seingat saya selama tiga malam kami masuk kamp pelatihan di sebuah desa yang namanya desa Antiga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Desa ini terletak kurang lebih 30 km arah utara Denpasar. Desa Muslim yang memiliki penduduk Muslim sebanyak 18 KK. Di situ juga ada Masjid, yang terletak di pinggir jalan raya Denpasar-Plaga. Namanya saja desa, tentu jauh dari keramaian. Menurut penuturan banyak orang, tanah desa ini adalah hadiah dari Raja Badung sebagai imbalan atas bantuannya menangkis serangan musuh dari kerajaan lain. Entah generasi ke berapa mereka yang saat ini tinggal di desa ini. (foto masjid-nya)

HMI, PROVOKATOR PENEGUH HATI

Read Full Post »

buku hadiah

BUKU HADIAH

 

(cari bukunya, foto sampulnya)

Seorang kawan satu kelas dengan saya ikut tes di jurusan teknik elektro. Ia diterima di sana. Di semester ke-3 ia kuliah di dua program studi di perguruan tinggi yang sama. Semester ke-3 kuliah di Sastra Inggris Fak Sas. Di program studi teknik elektro, ia kuliah di semester pertama. Ia berniat meninggalkan jurusan Sastra Inggris dan ia menghadiahkan sebuah buku kepada saya. Tentu saya sangat berterima kasih. Buku itu sudah ditulisi dengan nama dirinya, kemudian ditambah tulisan “dihadiahkan kepada kawan saya: Majid Wajdi”. Terima kasih, kawan baik saya yang bernama Wiarsana, atas hadiah dan kebaikannya. Kemudian kami berpisah. Dia konsentrasi kuliah di program studi teknik elektro, saya tetap di program studi Sastra Inggris.

 BUKU HADIAH

Read Full Post »

ustadz

USTADZ

Kebanyakan mahasiswa memang benar-benar 100% untuk belajar. Lain cerita dengan saya. Saya harus sambil mencari sambilan agar dapat membayar SPP. Tentu saja pekerjaan yang dapat saya lakukan sambil berkuliah. Dari mana saya mendapatkan uang untuk membayar SPP dan lain-lain? Saya bersyukur dapat membaca huruf Al Quran. Di Bali, tepatnya di Tuban Bali, guru mengaji diperlukan. Banyak anak-anak terutama anak usia SD yang perlu diberi pelajaran cara membaca huruf Arab, huruf Al Quran. Dua pekan sekali saya mengajar anak-anak usia SD mengaji di Masjid Nurul Huda Tuban. Saya dan kakak saya tinggal tidak jauh dari masjid ini. Senin dan Rabu mengajar mengaji di Masjid, Selasa dan Kamis mengajar mengaji di SD tempat kakak saya mengajar. Mereka adalah putra dan putri karyawan Angkasa Pura. Mayoritas penghuni perumahan Angkasa Pura adalah Muslim. Ada beberapa yang beragama Hindu. Mayoritas siswa sekolah dasar tempat kakak saya mengajar juga Muslim. Bagi anak-anak yang tinggal di perumahan angkasa pura di bagian barat mengaji di sekolah dekat rumahnya. Bagi yang tinggal di perumahan timur, mereka mengaji di masjid Nurul Huda. Masjid ini satu kompleks dengan gereja dan pura untuk yang beragama Hindu. Masjid Nurul Huda merupakan masjid milik Bandara Ngurah Rai dan dibangun di atas tanah milik Angkasa Pura. Akan tetapi jamaah dari luar, bukan penghuni perumahan angkasa pura, banyak yang shalat di sini. Salah satunya adalah saya. Saya bukan anak karyawan Angkasa Pura. Sejak 2008, perumahan Angkasa Pura, baik kompleks perumahan barat maupun kompleks perumahan timur dibongkar untuk perluasan bandara. Nama-nama jalan di kompleks perumahan ini hilang. Kita tidak lagi menemui nama jalan Polonia, jalan Mapanget, jalan Rembiga dan lain-lain. Para penghuni telah berpindah ke non-perumahan dinas. Sekolah Dasar di kompleks perumahan angkasa pura bagian barat juga ikut dibongkar dan dipindah di sebelah barat Masjid Nurul Huda. Dulu namanya SDN 4 Tuban. Sekarang berubah menjadi SDN 6 Tuban. Semula sekolah ini adalah SD swasta yang dibangun oleh Angkasa Pura, tetapi kemudian di-negeri-kan. Di sebelah SD ada TK swasta yang tetap dikelola oleh Yayasan Angkasa Pura. Mulai tahun 1982, yayasan angkasa pura mendirikan sebuah SMP swasta, namanya SMP Angkasa. Gedung SMP ini sekarang juga menempati lokasi baru, bersebelahan dengan SDN 6 Tuban dan TK Wipara. Saya termasuk karyawan SMP Angkasa pada awal berdiri. Waktu itu murid angatan pertama sekitar sepuluh orang. Sebagian gurunya adalah guru SMP Negeri I Kuta, sebuah SMP terfavorit di Kuta. SDN 4 Tuban (kemudian menjadi SDN 6) juga sekolah dasar favorit. Karena lokasi sekolah ini di kompleks perumahan Angkasa, orang sering menyebut SD Angkasa Pura. Kebanyakan alumni SDN 4 ini melanjutkan ke SMPN I Kuta, terutama anak-anak yang pintar. SDN 4 Tuban dan SMPN I Kuta menjadi dua nama sekolah yang sangat terpandang bagi masyarakat Kuta dan sekitarnya. TK Wipara juga menjadi TK paling disukai. Magnet Angkasa Pura benar-benar mendongkrak nama TK ini. Apakah nama Angkasa Pura selalu mengangkat nama sekolah? Tidak! SMP Angkasa yang dikelola Yayasan Angkasa tidak semujur TK Wipara dari segi nama. Tentu saja sebagai pendatang baru, apalagi sekolah swasta, tidak mampu bersaing dengan SMP negeri maupun SMP swasta yang lebih dahulu lahir. Guru ngaji atau ustadz.

USTADZ

Read Full Post »

Kuliah, bayar berapa?

KULIAH, BAYAR BERAPA?

Ada pertanyaan yang pernah saya terima dari ibu tuan rumah tempat saya ikut numpang di rumah kos kakak saya. Awalnya saya tidak menyangka bahwa pertanyaan itu bukan berkenaan dengan berapa SPP dan lain-lain yang harus saya bayar setiap bulan. Saya dikira membayar alias menyuap agar dapat diterima kuliah di PTN bergengsi ini. Subhanallah. Saya ikut tes di PTN itu pun hasil nekat saya. Saya belum siap secara finasial untuk membayar SPP dan lain-lain. Saya hanya nekat dan menyerahkan segalnya kepada yang Maha Pemberi rezki. Saya hanya seorang anak manusia yang punya keinginan untuk dapat bersekolah. Saya harus sering kena marah bagian keuangan sekolah sewaktu di bangku SLA karena sering terlambat membayar SPP. Saya juga pernah ‘membolos’ membayar tiket bis jurusan Purworejo-Semarang sebsar 750 rupiah pada tahun 1982 sewaktu saya ke Semarang hendak mendaftar tes perguruan tinggi di IKIP Semarang (sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Semarang). Saya juga ‘membolos’ membayar tiket bis kota sebesar 50 rupiah di tahun yang sama, tahun 1982. Keinginan untuk dapat melanjutkan di perguruan tinggi, melupakan pada yang tidak saya miliki. Paman saya menjuluki saya sebagai anak kementhus. Julukan dalam bahasa Jawa untuk menyebut orang-orang yang secara fisik dan finansial tidak memiliki apa-apa tetapi berkeinginan melakukan sesuatu yang menurut sang penilai sebagai hal yang mustahil.

Saya katakan saya masuk perguruan tinggi negeri ini melalui proses tes. Saya lulus tes. Saya tidak mungkin menyogok dengan membayar sekian rupiah agar dapat lulus tes dan diterima. Saya tidak punya dana untuk menyogok, jika benar ada yang dapat masuk melalui proses membayar alis menyogok. Saya juga tidak percaya dengan aktivitas sogok menyogok. Saya akan bersyukur kalau saya dapat membayar SPP bulan dan kebutuhan dasar. Itu sudah cukup dan harus disyukuri. Saya sering mendengar pernyataan orang bahwa untuk sekolah, untuk kuliah dan nanti setelah selesai sekolah atau kuliah, orang juga harus menyogok agar diterima berkerja di suatu tempat kerja. Saya sendiri, di samping tidak punya cukup dana, tidak percaya dengan sogok menyogok untuk dapat masuk kuliah dan memasuki dunia kerja. Saya hanya yakin bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik, tanpa melalui sogok menyogok alis suap-menyuap. Saya berkeyakinan bahwa pernyataan Nabi harus menjadi pegangan bahwa “penyuap dan penerima suap adalah penghuni neraka”. Sampai hari ini saya juga sering mendengar untuk menjadi PNS, orang harus membayar 250 juta sampai 300 juta. Untuk menjadi guru PNS di suatu Kabupaten dijamin diterima asal mau menyediakan uang sebesar itu. Katanya. Bahkan ada seorang kawan, serius atau tidak, pernah bersedia membayar 500juta jika anaknya dijamin masuk PNS. Anaknya memiliki ijazah S-2. Saya pribadi tidak tergiur dengan cerita-cerita seputar suap-menyuap dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Bagaimana mungkin bekerja dalam rangka mencari rezki, untuk mendapatkan uang kok harus membayar sekian banyak. Apakah itu masuk akal? Masuk akal atau tidak harus diingat dan dicamkan bahwa “penyuap dan penerima suap keduanya adalah penghuni neraka”. Kuliah, bayar berapa?

KULIAH, BAYAR BERAPA?

Read Full Post »

sepeda gayung

SEPEDA GAYUNG

HAJRA-SPEDA 1670

hajra & her bike

Beberapa puluh tahun yang lalu, sepeda gayung meruapakan salah satu alat transportasi, bahkan merupakan alat transportasi yang dapat dikatagorikan mewah. Dulu di kampung saya sepda gayung pernah menempati posisi teratas. Seingat saya di kampung saya hanya ada dua orang yang memiliki sepeda gayung. Pemilik pertama adalah seorang juragan tahu di kampung saya. Sepeda ini memang digunakan sebagai alat transportasi dan alat mengangkut barang dagangan. Dua pekan sekali juragan tahu di kampung saya pergi belanja ke kota yang jaraknya kurang lebih 15km. Karena juragan tahu yang ia beli adalah bahan pembuat tahu yang namanya kedelai. Pemilik kedua adalah tetangga sebelah rumah saya. Fungsinya ya hanya sekedar barang klangenan alias barang mewah sebagai pajangan. Setiap sore, ia membawa sepedanya ke jalan raya kampung kami. Kami memang sering bersantai ria di pinggir jalan raya. Salah satu hiburan yang sangat mewah adalah menonton “pameran” tunggal sepeda milik tetangga. Kami terkagum-kagum dengan jeruju sepeda yanng sangat mengkilat…….

Sekarang, fungsi sepeda gayung sudah banyak bergeser. Orang dewasa yang memiliki sepeda sekadar untuk alat olahraga atau barang tambahan. Anak-anak dibelikan sepeda oleh orang tuanya hanya sebagai alat bermain dan bersantai.

Saya harus bersyukur pula bahwa saya dapat menyelesaikan kuliah S-1 di tengah keterbatasan. Tidak ada yang mendukung. Semua menentang keinginan saya kuliah. Dapat dibayangkan, di kota metropolitan Denpasar, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas kilometer mengendarai sepeda gayung. Sepeda ini saya beli seharga 45ribu rupiah di akhir tahun 1982. Uang itu saya kumpulkan dari hasil ikut bekerja sebagai kuli mengaspal jalan. Pengalaman ikut menjadi kuli mengaspal jalan adalah di jalan Morotai, daerah Sanglah, Denpasar. Saya mendapat gaji sebesar 40ribu satu bulan. Oleh karena itu setelah merasa cukup hasil menyisihkan sebagain penghasilan saya kemudian saya investasikan untuk membeli sepeda gayung. Setelah survey dan tanya sana sini, saya pergi ke pasar Kereneng Denpasar. Dari Kuta saya naik bemo jurusan Kuta-Denpasar. Turun di terminal bemo Tegal di Denpasar, kemudian menerukan perjalanan dengan bemo roda tiga menuju pasar Kereneng, Denpasar. Waktu itu angkutan untuk seputar kota Denpasar adalah bemo roda tiga.Di Bali semua kendaraan umum di sebut bemo, baik bemo roda tiga maupun angkutan roda empat disebut bemo. Akan tetapi sejak 1987-an bemo roda tiga di kota Denpasar dihapus. Semua diganti dengan angkutan roda empat.

Setelah tanya sana-sini akhirnya saya sepakat untuk membeli sepeda seharga 45ribu rupiah. Warnanya biru muda. Untuk mengurangi harga agar terjangkau kantong saya, sepeda itu tidak saya lengkapi dengan bencengan belakang. Di samping untuk menekan harga, saya juga tidak berniat membonceng siapapun. Sepeda inilah yang kemudian saya gunakan untuk mengikuti kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Denpasar dan di Bali. Alhamdulillah saya lulus tes masuk di Jurusan Sastra Inggris, sebuah jurusan yang sangat bergensi. Hanya berbekal semangat ingin kuliah, saya nekat masuk. Saya harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas kilometer dari Desa Tuban dekat Bandara Ngurah Rai menuju Denpasar, tepatnya di fakultas Sastra Jalan Nias Denpasar atau depan rumah sakit pusat Sanglah. Sewaktu saya baru masuk fakultas ini, ada dua kompleks kampus, yaitu kampus jalan Nias dan kampus pusat di jalan Sudirman kurang lebih satu kilometer arah timur kampus jalan Nias. Setahu saya, mahasiswa satu angkatan yang mengendarai sepeda gayung ada tiga orang. Pertama tentu saja saya. Kedua kawan yang asalnya dari Banyuwangi Jawa Timur dan tinggal di Sanur. Namanya Edi. Hanya saja ia selalu menitipkan sepeda gayungnya di rumah kawannya, di daerah Panjer. Dengan demikian tidak ada yang tahu kalau dia naik sepeda gayung ke kampus. Mahasiswa ketiga adalah kawan dari Karangasem dan tinggal di daerah Tanjung Bungkak. Saya lupa namanya. Oh iya kalau tidak keliru namanya I Wayan Sudiarsa. Saya masih ingat, ia bertubuh jangkung. Sepeda yang digunakan untuk ke kampus sehari-hari adalah sepeda balap. Ia berani memarkir sepedanya di kampus, seperti saya. Tetapi dari segi jarak, sayalah yang tinggal paling jauh. Kawan saya Edi ikut kakaknya, sama seperti saya. Alhamdulillah saya dan Edi dapat menyelesaikan kuliah, kami wisuda satu angkatan. Saya tidak tahu tahu bagaimana kelanjutan kawan saya I Wayan Sudiarsa. Saya kehilangan kontak setelah menyelesaikan kuliah saya. Saya berhasil diwisuda pada Febrauri 1989. Berarti saya menempuh kuliah S-1 saya dalam waktu enam tahun. Seingat saya tahun 1989 ketika saya diwisuda, baru ada sepuluh orang mahasiswa satu angkatan yang berhasil diwisuda. Kami ber-50 orang mahasiswa untuk jurusan Sastra Inggris angkatan 1983. Indeks Prestasi akademik saya, Alhamdulillah, 2.5. Setahu saya waktu yang paling pintar, anak cewek, indeks prestasinya 3.0, IP tertinggi di jurusan kami dan jurusan lain di Fakultas Sastra.

HAJRA-SPEDA1669

Apakah perjalanan kuliah saya tidak penuh tantangan. Oh, banyak sekali. Yang membuat saya ‘tersiksa’ adalah jadwal kuliah yang tidak teratur. Banyak jadwal kuliah dipindah sesuai dengan kesempatan dan waktu luang sang dosen. Ada jadwal yang sudah berurutan harus diganti dan dipindah menjadi sore hari, pukul 18.00. Jika saya harus kuliah pagi jam 9 dan ada kuliah sore jam 3 atau jam 6 sore, maka saya harus bertahan di Denpasar. Kalau saya harus pulang ke tempat kos kakak saya yang berjarak 13 km dari kampus, betapa lelahnya. Alhamdulillah kampus saya dekat dengan sebuah masjid, namanya Masjid An Nur. Di sinilah biasanya saya shalat dhuhur dan ashar dan kemudian istirahat sambil menunggu waktu kuliah jadwal sore hari. Beruntung kawan saya Edi, yang rumahnya kurang lebih tujuh kilometer dari Denapasar, tepatnya di daerah Sanur, juga tidak pulang. Jadi kami berdua dapata shalat Dhuhur dan Ashar dan kemudian istirahat dan melepas lelah di masjid ini. Saya banyak tertolong dengan keberadaan masjid ini. Saya juga pernah diuji di masjid ini. Sepatu terbaik saya hilang diambil orang. Padahal saya harus kuliah setelah shalat Ashar. Karena kuliahnya mulai jam 6 sore menjelang maghrib dan keterbatasan dana di kantong, saya kemudian membeli sandal jepit dan mengambil tempat duduk di tengah belakang agar tak terlihat pak dosen kalau saya tak bersepatu. Saya tidak habis mengerti kenapa tega-teganya pencuri itu mengembat sepatu saya. Padahal sepatu itu juga tidak pernah saya semir. Bagi saya waktu, yang penting ada alas kaki yang dapat dikatagorikan sebagai sepatu. Itu saja. Tetapi sekali lagi, sepatu itu adalah satu-satunya sepatu terbaik saya, yang akan saya pakai sampai kapanpun sepanjang tidak robek atau rusak. Rupanya pencuri sepatu di tempat ibadah punya niatan lain. Ia tega mengambil sepatu itu. Apakah sepatu itu hendak dipakai sendiri? Apakah sepatu itu akan dijual di pasar loak? Wah, pertanyaan yang tidak perlu diajukan. Dasar maling nggragas, sepatu seperti itu (tapi sangat bagus bagi pemiliknya, sehingga maling pun tergiur) diincar.

SEPEDA GAYUNG

Read Full Post »

Older Posts »

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.