Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Articles’ Category

Avoiding Plagiarism in A Research Paper

by Majid Wajdi (mawa2id@yahoo.com)

SENARILIP 2017-MAJID-PLAGIARISM CHECKER

Advertisements

Read Full Post »

KONTRAK SOSIAL DAN KONTRAK KOMUNIKASI PADA KOMUNITAS SOSIAL DAN KOMUNITAS TUTUR JAWA

Majid Wajdi

mawa2id@gmail.com

Paulus Subiyanto

Politeknik Negeri Bali

ABSTRAK

Secara sosial masyarakat Jawa terbagi dalam dua kelas sosial berdasarkan kesetaraan dan ketak-setaraan sosial antara satu individu dengan individu yang lain dalam intra komunitas itu. Pada kelas sosial berdasarkan kesetaraan dibagi dalam dua sub-kelas yakni kesetaraan akrab dan kesetaraan berjarak. Sebagai anggota komunitas sosial, mereka juga memiliki bahasa yang memiliki stratifikasi tuturan. Dengan demikian sebagai anggota komunitas sosial dan komunitas tutur, penutur bahasa Jawa (BJ) terbiasa menggunakan tuturan BJ dalam tiga pola penggunaan tingkat tutur dalam interaksi lingual sehari-hari. Pertama, dua anggota komunitas sosial dan komunitas tutur saling menggunakan tingkat tutur rendah (ngoko) dalam interaksi lingual sehari-hari. Kedua, dua anggota komunitas sosial dan komunitas tutur saling menggunakan tingkat tutur tinggi (krama) dalam interaksi lingual sehari- hari. Ketiga, dua anggota komunitas sosial dan komunitas tutur saling menggunakan tingkat tutur yang berbeda, yakni penutur pertama menggunakan tingkat tutur rendah (ngoko), sebaliknya penutur kedua menggunakan tingkat tutur tinggi (krama) dalam interaksi lingual sehari-hari atau sebaliknya.

Penggunaan tingkat tutur yang terpola dan teratur tersebut mengindikasikan bahwa pilihan penggunaan kode tingkat tutur tertentu bukan semata-mata sebagai strategi komunikasi, tetapi merupakan bentuk kontrak sosial dan kontrak komunikasi yang disepakati oleh masing-masing peserta tutur yang terlibat dalam sebuah peristiwa tutur. Karena merupakan kontrak sosial dan kontrak komunikasi, maka ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing peserta tutur. Pertama, saling menggunakan kode tingkat tutur rendah (ngoko) merupakan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh dua peserta tutur yang secara sosial sama atau setara dan akrab. Kedua, saling menggunakan kode tingkat tutur tinggi (krama) adalah hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing peserta tutur atau partisipan yang secara sosial setara tetapi ada jarak sosial antara keduanya. Ketiga, saling menggunakan kode tingkat tutur yang berbeda, ngoko versus krama, juga merupakan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh dua peserta tutur yang secara sosial berbeda. Ada perbedaan sosial yakni hierarkis sosial antara dua peserta tutur, sehingga dua peserta tutur tersebut memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Peserta tutur atasan (superior) memiliki hak dan kewajiban menggunakan kode tingkat tutur rendah (ngoko) ketika berbicara dengan bawahan. Sebaliknya hak dan kewajiban bawahan (subordinate) adalah menggunakan kode tingkat tutur tinggi (krama) ketika berkomunikasi dengan atasan.

Kata Kunci: kontrak sosial, kontrak komunikasi, kesepakatan sosial

KIMLI 2016 MAKALAH-Majid Wajdi



Read Full Post »

Majid Wajdi’s Papers

Read Full Post »

Communication Contract: The Use of Low Code (Ngoko) in Javanese (more…)

Read Full Post »

KONTRAK KOMUNIKASI: POLA PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR RENDAH (NGOKO) BAHASA JAWA

Majid Wajdi

mawa2id@gmail.com

&

Paulus Subiyanto

Politeknik Negeri Bali, Kampus Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali

Abstract

           The co-existence of low and high speech levels have become the explicit social markers of the language of Java as one of the stratified languages of Indonesia – as they are shown in the other four stratified languages of Indonesia – such as Balinese, Sundanese, Madurese and Sasak of Lombok. The pairs of low and high speech levels are language codes that can be used to show a social relationship between or among its speakers during their daily life. Dyadic use of low and high codes of the language of Java are shown in three communication patterns of use of speech levels as a reflection of a social stratification of the society.

This paper discusses how speakers of the language of Java use low code (ngoko) speech level symmetrically. It is customary for its speakers to use a low code, as an integral part of speech levels, in the daily life of communication within their own speech community. In dyadic and symmetrical communication, two speakers of the language of Java will use low (ngoko) code to communicate to each other during their daily life. Regular use of low (ngoko) code symmetrically by two or more speakers can be seen as a marker of social equality and intimacy. Symmetrical use of low code (ngoko) reflects a meaning of social solidarity between or among the participants involved in a speech act in a speech event within a speech community. Regular use of low code (ngoko) indicates strongly that there is a reflection of politeness in language use and it is called friendliness politeness. Symmetrical use of low code (ngoko) indicates that it is not merely a communication strategy but – as it will become a research hypothesis – a kind of social contract or social agreement in broader sense or intimate communication contract for more specific one between or among the participants involved in a speech act in a speech event within a speech community.

Keyword: equality, closeness, solidarity, friendliness politeness, communication contract

Abstrak

Keberadaan sepasang tingkat tutur rendah dan tingkat tutur tinggi bahasa Jawa menjadi pemarkah sosial bahasa Jawa yang ekplisit sebagai salah satu bahasa yang memiliki stratifikasi tuturan – sebagaimana tercermin pada bahasa-bahasa yang memiliki stratifikasi tuturan – seperti bahasa sekerabat yaitu bahasa Sunda, Bali, Sasak, dan Madura. Keberadaan sepasang tuturan rendah (ngoko) dan tinggi (krama) tersebut adalah kode bahasa yang dapat digunakan untuk memperlihatkan hubungan sosial di antara para penutur dalam sebuah komunitas sosial. Penggunaan kode rendah dan tinggi secara diadik melahirkan tiga pola penggunaan tingkat tutur sebagai bentuk pola komunikasi pada masyarakat yang memiliki stratifikasi sosial.

Makalah ini membahas bagaimana pola penggunaan tingkat tutur rendah (ngoko) bahasa Jawa secara diadik dan simetris dalam komunikasi sehari-hari pada komunitas tutur bahasa Jawa. Sebagai bagian integral dari tingkat tutur bahasa Jawa, tingkat tutur rendah (ngoko) ini digunakan dalam komunikasi sehari-hari para penutur bahasa Jawa sebagai media dan komunikasi sosial. Dalam komunikasi diadik setara akrab, dua peserta tutur saling menggunakan tingkat tutur rendah (ngoko) bahasa Jawa. Penggunaan tingkat tutur rendah (ngoko) secara diadik ini memperlihatkan penggunaaan tingkat tutur yang terpola sebagai cermin bentuk perilaku komunikasi yang terpola pula. Penggunaan tingkat tutur rendah (ngoko) secara diadik simetris ini berfungsi sebagai pemarkah kesetaraan dan keakraban yang dikembangkan oleh para partisipan yang terlibat dalam sebuah tuturan dalam sebuah peristiwa tutur. Pola penggunaaan tingkat tutur rendah (ngoko) secara diadik simetris menyajikan makna kesetiakawan di antara para partisipan yang terlibat dalam tindak tutur dalam peristiwa tutur pada sebuah komunitas tutur. Keteraturan penggunaan tingkat tutur rendah (ngoko) yang terpola dapat mengindikasikan bahwa tingkat tutur rendah (ngoko) bahasa Jawa mencerminkan kesantunan berbahasa yang dalam penelitian ini disebut kesantunan persekawanan. Keteraturan pola komunikasi menggunakan tuturan rendah (ngoko) ini juga mengindikasikan bukan semata-mata strategi komunikasi tetapi – sebagaimana hipotesis penelitian ini – adalah sebuah kontrak sosial atau kesepakatan sosial dalam makna yang lebih luas atau kontrak komunikasi setara akrab dalam makna yang lebih spesifik antara para partisipan yang terlbiat dalam sebuah tindak tutur dalam peristiwa tutur dalam komunitas tutur.

Kata kunci: kesetaraan, keakraban, kesetiakawanan, kesantunan persekawanan, kontrak komunikasi

Permintaan makalah lengkap (full paper): isi formulir di bawah ini:

Full paper Kontrak Komunikasi, Penggunaan Ngoko Bahasa Jawa

Read Full Post »

MUI Badung Kunjungi MUI Kebumen Jateng

P_20160506_064146

MUI Badung dan Majelis Ekonomi Pariwisata MUI Badung tiba di Bandara Yoogyakarta Jumat 6 Mei 2016.

Sembilan anggota Pengurus MUI Badung yakni Wakil Ketua Umum (H. Ahmad Shoim, S.Ag), Bendahara Umum (H. Ari Qomari) dan Majelis Ekonomi Pariwisata melakukan muhibah kunjungan ke MUI Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

P_20160506_095854

MUI Badung Kunjungi MUI Kebumen Jateng

Read Full Post »

Rencana Rakerda Muhammadiyah Kabupaten Badung

 

Read Full Post »

Older Posts »

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.