Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pit onthel’

sepeda gayung

SEPEDA GAYUNG

HAJRA-SPEDA 1670

hajra & her bike

Beberapa puluh tahun yang lalu, sepeda gayung meruapakan salah satu alat transportasi, bahkan merupakan alat transportasi yang dapat dikatagorikan mewah. Dulu di kampung saya sepda gayung pernah menempati posisi teratas. Seingat saya di kampung saya hanya ada dua orang yang memiliki sepeda gayung. Pemilik pertama adalah seorang juragan tahu di kampung saya. Sepeda ini memang digunakan sebagai alat transportasi dan alat mengangkut barang dagangan. Dua pekan sekali juragan tahu di kampung saya pergi belanja ke kota yang jaraknya kurang lebih 15km. Karena juragan tahu yang ia beli adalah bahan pembuat tahu yang namanya kedelai. Pemilik kedua adalah tetangga sebelah rumah saya. Fungsinya ya hanya sekedar barang klangenan alias barang mewah sebagai pajangan. Setiap sore, ia membawa sepedanya ke jalan raya kampung kami. Kami memang sering bersantai ria di pinggir jalan raya. Salah satu hiburan yang sangat mewah adalah menonton “pameran” tunggal sepeda milik tetangga. Kami terkagum-kagum dengan jeruju sepeda yanng sangat mengkilat…….

Sekarang, fungsi sepeda gayung sudah banyak bergeser. Orang dewasa yang memiliki sepeda sekadar untuk alat olahraga atau barang tambahan. Anak-anak dibelikan sepeda oleh orang tuanya hanya sebagai alat bermain dan bersantai.

Saya harus bersyukur pula bahwa saya dapat menyelesaikan kuliah S-1 di tengah keterbatasan. Tidak ada yang mendukung. Semua menentang keinginan saya kuliah. Dapat dibayangkan, di kota metropolitan Denpasar, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas kilometer mengendarai sepeda gayung. Sepeda ini saya beli seharga 45ribu rupiah di akhir tahun 1982. Uang itu saya kumpulkan dari hasil ikut bekerja sebagai kuli mengaspal jalan. Pengalaman ikut menjadi kuli mengaspal jalan adalah di jalan Morotai, daerah Sanglah, Denpasar. Saya mendapat gaji sebesar 40ribu satu bulan. Oleh karena itu setelah merasa cukup hasil menyisihkan sebagain penghasilan saya kemudian saya investasikan untuk membeli sepeda gayung. Setelah survey dan tanya sana sini, saya pergi ke pasar Kereneng Denpasar. Dari Kuta saya naik bemo jurusan Kuta-Denpasar. Turun di terminal bemo Tegal di Denpasar, kemudian menerukan perjalanan dengan bemo roda tiga menuju pasar Kereneng, Denpasar. Waktu itu angkutan untuk seputar kota Denpasar adalah bemo roda tiga.Di Bali semua kendaraan umum di sebut bemo, baik bemo roda tiga maupun angkutan roda empat disebut bemo. Akan tetapi sejak 1987-an bemo roda tiga di kota Denpasar dihapus. Semua diganti dengan angkutan roda empat.

Setelah tanya sana-sini akhirnya saya sepakat untuk membeli sepeda seharga 45ribu rupiah. Warnanya biru muda. Untuk mengurangi harga agar terjangkau kantong saya, sepeda itu tidak saya lengkapi dengan bencengan belakang. Di samping untuk menekan harga, saya juga tidak berniat membonceng siapapun. Sepeda inilah yang kemudian saya gunakan untuk mengikuti kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Denpasar dan di Bali. Alhamdulillah saya lulus tes masuk di Jurusan Sastra Inggris, sebuah jurusan yang sangat bergensi. Hanya berbekal semangat ingin kuliah, saya nekat masuk. Saya harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas kilometer dari Desa Tuban dekat Bandara Ngurah Rai menuju Denpasar, tepatnya di fakultas Sastra Jalan Nias Denpasar atau depan rumah sakit pusat Sanglah. Sewaktu saya baru masuk fakultas ini, ada dua kompleks kampus, yaitu kampus jalan Nias dan kampus pusat di jalan Sudirman kurang lebih satu kilometer arah timur kampus jalan Nias. Setahu saya, mahasiswa satu angkatan yang mengendarai sepeda gayung ada tiga orang. Pertama tentu saja saya. Kedua kawan yang asalnya dari Banyuwangi Jawa Timur dan tinggal di Sanur. Namanya Edi. Hanya saja ia selalu menitipkan sepeda gayungnya di rumah kawannya, di daerah Panjer. Dengan demikian tidak ada yang tahu kalau dia naik sepeda gayung ke kampus. Mahasiswa ketiga adalah kawan dari Karangasem dan tinggal di daerah Tanjung Bungkak. Saya lupa namanya. Oh iya kalau tidak keliru namanya I Wayan Sudiarsa. Saya masih ingat, ia bertubuh jangkung. Sepeda yang digunakan untuk ke kampus sehari-hari adalah sepeda balap. Ia berani memarkir sepedanya di kampus, seperti saya. Tetapi dari segi jarak, sayalah yang tinggal paling jauh. Kawan saya Edi ikut kakaknya, sama seperti saya. Alhamdulillah saya dan Edi dapat menyelesaikan kuliah, kami wisuda satu angkatan. Saya tidak tahu tahu bagaimana kelanjutan kawan saya I Wayan Sudiarsa. Saya kehilangan kontak setelah menyelesaikan kuliah saya. Saya berhasil diwisuda pada Febrauri 1989. Berarti saya menempuh kuliah S-1 saya dalam waktu enam tahun. Seingat saya tahun 1989 ketika saya diwisuda, baru ada sepuluh orang mahasiswa satu angkatan yang berhasil diwisuda. Kami ber-50 orang mahasiswa untuk jurusan Sastra Inggris angkatan 1983. Indeks Prestasi akademik saya, Alhamdulillah, 2.5. Setahu saya waktu yang paling pintar, anak cewek, indeks prestasinya 3.0, IP tertinggi di jurusan kami dan jurusan lain di Fakultas Sastra.

HAJRA-SPEDA1669

Apakah perjalanan kuliah saya tidak penuh tantangan. Oh, banyak sekali. Yang membuat saya ‘tersiksa’ adalah jadwal kuliah yang tidak teratur. Banyak jadwal kuliah dipindah sesuai dengan kesempatan dan waktu luang sang dosen. Ada jadwal yang sudah berurutan harus diganti dan dipindah menjadi sore hari, pukul 18.00. Jika saya harus kuliah pagi jam 9 dan ada kuliah sore jam 3 atau jam 6 sore, maka saya harus bertahan di Denpasar. Kalau saya harus pulang ke tempat kos kakak saya yang berjarak 13 km dari kampus, betapa lelahnya. Alhamdulillah kampus saya dekat dengan sebuah masjid, namanya Masjid An Nur. Di sinilah biasanya saya shalat dhuhur dan ashar dan kemudian istirahat sambil menunggu waktu kuliah jadwal sore hari. Beruntung kawan saya Edi, yang rumahnya kurang lebih tujuh kilometer dari Denapasar, tepatnya di daerah Sanur, juga tidak pulang. Jadi kami berdua dapata shalat Dhuhur dan Ashar dan kemudian istirahat dan melepas lelah di masjid ini. Saya banyak tertolong dengan keberadaan masjid ini. Saya juga pernah diuji di masjid ini. Sepatu terbaik saya hilang diambil orang. Padahal saya harus kuliah setelah shalat Ashar. Karena kuliahnya mulai jam 6 sore menjelang maghrib dan keterbatasan dana di kantong, saya kemudian membeli sandal jepit dan mengambil tempat duduk di tengah belakang agar tak terlihat pak dosen kalau saya tak bersepatu. Saya tidak habis mengerti kenapa tega-teganya pencuri itu mengembat sepatu saya. Padahal sepatu itu juga tidak pernah saya semir. Bagi saya waktu, yang penting ada alas kaki yang dapat dikatagorikan sebagai sepatu. Itu saja. Tetapi sekali lagi, sepatu itu adalah satu-satunya sepatu terbaik saya, yang akan saya pakai sampai kapanpun sepanjang tidak robek atau rusak. Rupanya pencuri sepatu di tempat ibadah punya niatan lain. Ia tega mengambil sepatu itu. Apakah sepatu itu hendak dipakai sendiri? Apakah sepatu itu akan dijual di pasar loak? Wah, pertanyaan yang tidak perlu diajukan. Dasar maling nggragas, sepatu seperti itu (tapi sangat bagus bagi pemiliknya, sehingga maling pun tergiur) diincar.

SEPEDA GAYUNG

Advertisements

Read Full Post »

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Beautiful Life with Cancer

Discovering the Gift

Storytime with John

Pull up and listen...I've got a funny one for ya...

Sociolinguistics

Demi Pena dan Apa Yang Dituliskan: Berisi Aktivitas coretan dan Makalah

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.